Bangkok (Siakpos.com) – Runtuhnya gedung Kantor Audit Negara Thailand atau State Audit Office SAO pada Maret 2025 lalu, menewaskan sedikitnya 95 pekerja dan melukai sembilan orang lainnya. Tragedi ini kemudian terungkap bukan semata akibat gempa bumi, melainkan dipicu cacat desain, praktik konstruksi yang buruk, serta lemahnya pengawasan proyek.
Gedung setinggi 33 lantai yang masih dalam tahap pembangunan di kawasan Chatuchak itu runtuh pada 28 Maret 2025 setelah gempa kuat yang berpusat di Myanmar mengguncang Bangkok. Saat kejadian, para pekerja tengah memasang instalasi pipa dan panel kaca.
Laporan resmi yang dirilis pemerintah Thailand pada 30 Juni 2025 menyimpulkan keruntuhan disebabkan oleh kesalahan desain dan konstruksi. Hasil inspeksi menemukan dinding struktural tidak sesuai standar, kualitas beton rendah, serta pelanggaran serius terhadap ketentuan teknik bangunan.
Penyelidikan lanjutan juga mengungkap penggunaan material yang dimodifikasi secara ilegal dan tidak sesuai spesifikasi proyek. Aparat menetapkan tim perancang, kontraktor pelaksana, dan pengawas konstruksi sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam perkembangan hukum, kepolisian Thailand menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap sejumlah pihak. Hingga Agustus 2025, jaksa telah mengajukan dakwaan terhadap 23 individu dan badan usaha atas dugaan kelalaian profesional, pelanggaran keselamatan kerja yang menyebabkan kematian, serta pemalsuan dokumen.
Selain itu, penyelidikan turut menemukan indikasi korupsi dan manipulasi tender proyek yang melibatkan sejumlah pejabat negara. Kasus tersebut kini ditangani Komisi Anti Korupsi Nasional Thailand.
Runtuhnya gedung SAO menjadi salah satu tragedi paling mematikan di Thailand pada 2025 dan memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar konstruksi, sistem pengawasan proyek pemerintah, serta kesiapsiagaan nasional menghadapi bencana

